Gambar Entok Jantan ( Sumber Gambar: ardinan666 www.kaskus.co.id)
Wabah flu burung (Aves Influenza, AI), telah mengakibatkan kerugian
yang luarbiasa di dunia perunggasan, dan juga mengancam keselamatan jiwa
manusia. Tidak pernah ada bukti ilmiah bahwa flu burung, terutama virus
H5N1, disebabkan oleh dampak peternakan unggas modern. Namun belajar
dari kasus wabah penyakit sapi gila di Inggris, diduga ada korelasi
antara pola peternakan unggas modern, dengan munculnya virus AI tipe
baru. Sebab di Inggris, wabah sapi gila itu baru muncul, ketika limbah
pemotongan domba, terutama tulangnya, digiling dan dicampurkan ke pakan
sapi.
Tahun 1980an, dunia perunggasan di AS pernah dihebohkan oleh
penggunaan hormon pertumbuhan pada ayam pedaging, yang dampak negatifnya
muncul pada remaja AS. Remaja yang sejak kanak-kanak mengkonsumsi
daging ayam yang diberi hormon, pada usia yang masih sangat belia, telah
mengalami kematangan seksual. Sejak itu penggunaan hormon pada ayam
pedaging dilarang. Di Eropa, pernah muncul gagasan untuk membuat sapi
perah transgenik, dengan memasukkan gen manusia pada sapi perah.
Maksudnya, agar kualitas hasil susunya setara dengan ASI. Gagasan ini
segera mendapat tantangan yang sangat keras.
Secara normatif, memang tidak ada yang salah pada seluruh sistem
agribisnis perunggasan. Namun antara yang normatif dengan praktek di
lapangan sangat jauh berbeda. Seluruh sistem perunggasan modern yang
normatif, sangat rawan untuk dibelokkan, demi mengejar keuntungan
sebesar mungkin. Peternakan rakyat yang masih menggunakan pola alami,
tidak pernah diberi peluang untuk berkembang. Salah satu unggas, yang
berpeluang cukup baik untuk dikembangkan menjadi penghasil daging
alternatif adalah entog, itik manila, atau itik serati. Unggas ini tidak
mungkin dikembangkan sebagai penghasil telur sebagaimana itik biasa.
Sebab putih telur pada etog, terksturnya liat dan keras.
# # #
Yang disebut itik manila (entok, itik serati), sebenarnya merupakan
domenstifikasi dari dua spesies itik liar. Yang pertama itik liar
species Cairina moschata, yang lazim disebut Muscovy Duck. Itik jinaknya
yang sudah dipelihara, disebut Barbary Duck. Itik spesies ini berasal
dari benua Amerika. Habitat aslinya tersebar mulai dari kawasan Amerika
Selatan, Amerika Tengah, Kepulauan di Laut Karibia, sampai ke Amerika
Serikat. Populasinya diduga sekitar 1.000.000 ekor. Domestifikasi
Muscovy Duck, menghasilkan dua varian Barbary Duck. Pertama, yang masih
mengikuti ciri-ciri fisik spesies liarnya, dengan ciri berbulu hitam dan
bersayap putih. Itik jantannya berpial merah cerah. Kedua, yang 100%
berbulu putih.
Itik manila Barbary Duck, masuk ke Indonesia karena dibawa oleh
bangsa Portugis. Yang pertama-tama mengintroduksi Barbary Duck dari
benua Amerika adalah bangsa Portugis. Mereka membawanya ke Manila
(Filipina). Baru kemudian Belanda mengintroduksi itik ini ke Indonesia
(Hindia Belada), dari Manila. Itulah sebabnya Barbary Duck populer
dengan sebutan itik manila. Sekarang Barbary Duck mudah kita jumpai di
kampung-kampung, dipelihara bersamaan dengan ayam dan itik biasa (itik
tegal, mojosari, magelang dan alabio), yang lazim disebut Indian Runner
Duck. Itik manila Barbary Duck, bisa mencapai bobot 4 kg (jantan) dan 3
kg (betina). Itik manila Barbary Duck, populer sebagai unggas potong di
Jawa dan Sumatera.
Selain Barbary Duck, dikenal pula itik manila White-winged Wood Duck,
(Cairina scutulata). Ukuran tubuh itik manila ini, lebih kecil
dibanding itik manila Barbary Duck. Bobot jantannya hanya 3 kg,
sementara betinanya 2 kg. Itik manila White-winged Wood Duck, merupakan
domestifikasi dari itik liar yang hidup di rawa-rawa serta sungai di
India bagian Selatan, Banglades, dan Asia Tenggara, kecuali Filipina. Di
Indonesia, White-winged Wood Duck liar masih bisa dijumpai di Taman
Nasional Way Kambas di pulau Sumatera. Disebut White-winged Wood Duck,
sebab itik ini berbulu sayap putih, namun ketika bangsa Eropa
menjumpainya, dianggap mirip dengan itik Wood Duck (Aix sponsa). Wood
Duck adalah itik liar dari Amerika, yang masih satu genus dengan itik
mandarin (Mandarin duck, Aix galericulata).
Domestifikasi White-winged Wood Duck, sebagai itik manila, sebenarnya
baru terjadi pada jaman kolonial. Sebab pada jaman kerajaan Hindu, dan
Budha, yang dikembangkan sebagai itik penghasil telur adalah Indian
Runers, yang masuk genus Anas. Genus Anas sendiri terdiri dari atas 40
sd. 50 spesies. Sekarang, itik manila White-winged Wood Duck, bisa
dijumpai dipelihara dimasyarakat, dengan ciri bulu leher dan kepalanya
kombinasi hitam dan putih, bulu sayap putih, dan bulu lainnya hitam.
Karena White-winged Wood Duck kadang-kadang dipelihara bersama Barbary
Duck, sering terjadi kawin campur. Itik manila yang banyak dipelihara di
Jawa dan Sumatera, banyak yang merupakan persilangan antara Barbary
Duck dengan White-winged Wood Duck.
# # #
Di Jawa, itik manila mempunyai tiga fungsi ekonomis sekaligus.
Pertama sebagai unggas penghasil daging. Di banyak desa di Jawa,
memotong itik manila pada hari raya atau hajatan, dianggap lebih
prestisius dibanding dengan memotong ayam. Sebab harga itik manila
jantan, jauh lebih tinggi dibanding dengan harga ayam jago. Itik manila
jantan bobot 1 kg. yang bulunya belum tumbuh sempurna, sering dipotong
dan dimasak opor. Meskipun di kalangan masyarakat tertentu daging itik
manila sangat disukai, namun sebagian masyarakat kita tidak tidak
menyukainya. Alasannya, daging itikmanila lebih amis dibanding dengan
daging itik biasa.
Bau amis ini sebenarnya mudah sekali dihilangkan dengan merendamnya
10 menit dalam larutan jeruk nipis, cuka dan garam. Sekitar dua dekade
belakangan ini, populer istilah tiktok. Ini merupakan kependekan dari
itik-entok. Tiktok adalah silangan antara itik biasa dengan itik manila.
Itik jantan maupun itik betina hasil silangan antar spesies ini, selalu
mandul. Hingga fungsinya hanya untuk digemukkan sebagai itik pedaging.
Sebenarnya, sudah lama masyarakat di Jawa senang menyilangkan itik biasa
dengan itik manila, untuk digemukkan sebagai itik pedaging. Namun
tiktok baru populer sekitar 20 tahun belakangan.
Menurut para penggemar tiktok, rasa daging itik silangan ini lebih
enak dibanding itik manila maupun itik biasa. Permintaan pasar tiktok,
terutama dari restoran chinese food, sebanarnya sangat tinggi. Namun
pasokannya yang justru terbatas. Selain sebagai penghasil daging, itik
manila juga dipelihara untuk diambil bulu sayapnya, sebagai bahan
industri shuttle-cock (bola bulutangkis). Meskipun itik manila hanya
dipelihara dalam jumlah terbatas, namun populasi pemeliharanya sangat
besar. Hingga selalu ada pedagang pengumpul, yang berkeliling kampung
untuk mengumpulkan bulu sayap bahan shuttle-cock ini, kemudian disetor
ke pabrik.
Yang bisa diambil bulu sayapnya, hanya terbatas pada itik manila
jantan. Sebab itik manila betina, bulu kualitas bulu sayapnya tidak
sebaik itik manila jantan. Meskipun itik manila Barbary Duck, maupun
White-winged Wood Duck, berbulu hitam, namun bulu sayapnya selalu putih.
Selain itik manila bahan shuttle-cock juga barasal dari itik peking
(itik pedaging) yang berbulu putih seluruhnya. Fungsi paling penting
dari itik manila adalah sebagai pengeram (penetas) telur itik. Itik
petelur Indian Runers, sama sekali tidak bisa mengerami telur mereka.
Sebelum mesin tetas berenergi minyak tanah maupun listrik digunakan,
para peternak biasa menetaskan telur itik biasa dengan cara dierami oleh
ayam dan itik manila.
# # #
Itik manila digunakan sebagai penetas, karena daya tampungnya cukup
besar dibanding ayam. Di Bali dan Kalimantan Selatan, telur itik
ditetaskan dengan keranjang berisi sekam. Meskipun mesin tetas listrik
kapasitas besar sudah banyak dioperasikan, peternak di Bali dan Kalsel
masih tetap menggunakan keranjang dan sekam untuk menetaskan telur itik.
Di pedalaman Jawa, juga masih banyak peternak yang menetaskan telur
itik biasa dengan dititipkan ke itik manila. Meskipun ada perbedaan
jangka waktu penetasan antara ayam, itik biasa dan itik manila. Ayam
mengerami telur selama 21 hari. Itik biasa 28 hari, sementara itik
manila 35 hari.
Penitipan telur itik biasa ke ayam, akan mengakibatkan pengeraman
diperpanjang selama tujuh hari. Sementara penitipan itik biasa pada itik
manila, mengakibatkan pengeraman diperpendek tujuh hari. Kalau ayam
hanya mampu bertelur dan mengerami antara 8 sd. 10 butir, maka itik
manila mampu bertelur dan mengerami antara 10 sd. 15 butir. Penitipan
telur itik biasa ke ayam, selain mengakibatkan energi induk terkuras,
juga akan menimbulkan kesulitan tersendiri dalam pengasuhan selanjutnya.
Ketika anak-anak itik masuk ke perairan untuk berenang, maka induk ayam
akan berisik karena mencemaskan anak-anaknya. Hingga paling ideal
adalan menitipkannya ke itik manila.
Selain beberapa kelebihan ekonomis tadi, itik manila juga terkenal
bendel terhadap penyakit. Kalau itik biasa sudah dikenal bandel terhadap
penyakit unggas, maka itik manila jauh lebih bendel lagi. Pola
peternakan itik manila sebagai penghasil daging, bahan shuttle-cock dan
penetas telur, merupakan sesuatu yang alami. Pakan itik manila juga
hanya biji-bijian dan umbi-umbian, dengan sesekali diseling serangga dan
limbah ikan. Masyarakat pedesaan hanya memelihara unggas ini dengan
pakan dedak, nasi sisa dan selanjutnya diliarkan untuk merumput, mencari
serangga dan cacing. Pola peternakan yang alami ini merupakan salah atu
jawaban atas wabah flu burung yang melanda dunia perunggasan.
Sumber: http://foragri.wordpress.com/2011/05/02/produksi-daging-itik-manila-secara-alami/