Amazon Online Store

Amazon Online Store

Cari Blog Ini

Toko Buku Online Terlengkap

About Me

Sabtu, 24 November 2012

Mangga kio jay: Untung besar dari mangga harum manis raksasa


Bisa dibilang mangga kio jay adalah mangga yang sempurna. Lihat saja, dengan ukuran jumbo, daging buahnya manis dan harum. Itulah sebabnya mangga ini juga disebut mangga harum manis raksasa. Mangga ini mulai dikenal sejak 2001.
Mangga kio jay, merupakan mangga varietas baru asal Negeri Gajah Putih, Thailand. Sejak satu tahun terakhir, mangga yang memiliki ukuran jumbo ini mulai dikenal masyarakat Indonesia. Hanya saja, rasa mangga ini sempat diragukan.
Tampilan luar mangga kio jay memang menyenangkan. Lihat saja, sebuah mangga kio jay bisa memiliki bobot antara 1,2 kilogram (kg) sampai dengan 1,8 kg, bahkan berat bisa mencapai berat 2 kg. Lebih menarik lagi, dengan buah nan jumbo, rasa buah mangga ini manis dan harum.
Aji Win, pemilik Citra Karya Tani di Karawang adalah salah satu pembudidaya mangga kio jay. Ia mengatakan, baru di awal 2011, jenis mangga ini mulai marak. Ini dibuktikan dengan penjualan bibit mangga kio jay yang mencapai 200 bibit pohon per bulan.
Aji menjual bibit mangga setinggi 50 sentimeter (cm) dengan harga Rp 100.000 per pohon. Dari penjualan bibit mangga kio jay saja, Aji mengaku memperoleh omzet hingga Rp 20 juta per bulan.
Selain pesanan pohon yang datang dari wilayah Jabodetabek, banyak juga pesanan datang dari Kalimantan dan Sumatra. "Paling banyak dari Sumatra," kata Aji.
Bahkan karena keterbatasan bibit membuat Aji sering tidak mampu memenuhi semua pesanan. Kabarnya, para petani buah di Aceh saat ini sedang gencar bertanam buah yang memiliki arti hijau dan manis ini.
Selain duit dari bibit, buah mangga kio jay juga bisa menghasilkan untung berlimpah. Sebab, harga tiap kg mangga kio jay mencapai Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Oleh karena itu, tak jarang satu butir mangga bisa dijual dengan harga Rp 35.000 sampai Rp 40.000. Sekarang tinggal hitung saja bila setiap kali panen bisa menghasilkan 60 sampai 70 buah mangga yang juga disebut mangga harum manis raksasa ini. "Jadi sangat menjanjikan," ujar Aji.
Selain bentuk buah yang jumbo itu, buah mangga ini juga berdaging tebal. Selain itu, daging buah berserat lembut serta biji yang kecil.
Selain Aji, Widodo Utomo juga membudidayakan mangga kio jay sejak 2007 silam, Dengan usaha bernama Widodo Farm di Salatiga, Jawa Tengah, Widodo setiap bulan mampu mengirimkan 150 bibit mangga kio jay ke berbagai kota seperti Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Ada tiga jenis bibit yang dijual Widodo, pertama bibit ukuran tinggi 50 cm sampai 60 cm seharga Rp 50.000 per batang. Kedua, bibit setinggi satu meter dengan harga Rp 100.000 per batang, dan ketiga, bibit dengan tinggi pohon 1,5 m dan siap berbuah seharga Rp 250.000. "Bibit yang tinggi paling banyak peminatnya," kata Widodo.
Selain bibit, Widodo juga menjual buah mangga kio jay yang sudah masak. Namun, Widodo hanya menjual mangga ke satu pengepul dengan harga Rp 30.000 per kg.
Dengan 200 pohon kio jay yang dia pelihara, dalam satu kali panen raya, Widodo mengaku mampu mengantongi omzet antara Rp 180 juta sampai dengan Rp 200 juta.
Dengan omzet yang dihasilkan sebesar itu, Widodo yakin jenis mangga ini masih akan sangat prospektif di masa depan. Apalagi, belum banyak petani yang bertanam mangga berbuah raksasa ini.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/mangga-kio-jay-untung-besar-dari-mangga-harum-manis-raksasa-1-1/2011/09/16

Senin, 12 November 2012

Pemprov Jabar Patenkan 4 Ternak Asli Jawa Barat

Domba Garut (Domba lokal Jawa Barat asli dari Garut)

Ayam Pelung (Ayam lokal Jawa Barat asli dari Cianjur)


Ayam Sentul (Ayam lokal Jawa Barat asli dari Ciamis)

Itik Rambon ( Itik Lokal Jawa Barat Asli dari Cirebon)


Jawa Barat memiliki kekayaan sumber daya ternak yang melimpah dan unik. Untuk menjaga potensi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Peternakan Jabar telah mematenkan sebanyak empat komoditas peternakan asli Jabar. Yakni domba garut, ayam pelung, ayam sentul, dan itik rambon atau itik khas Cirebon.

"Pematenan komoditas tersebut diharapkan tidak ada lagi pengakuan dari pihak lain," ujar Kepala Dinas Peternakan Jabar Koesmayadi Tatang Padmadinata kepada wartawan, Minggu (11/11/2012).

Dia menjelaskan, tindakan pematenan untuk mencegah aksi pengakuan hak milik seperti yang telah dilakukan Jepang terhadap ayam pelung baru-baru ini. Padahal, ayam jenis tersebut merupakan hewan asli dari Tatar Pasundan.

Lebih lanjut Koesmayadi menuturkan, sentra ayam pelung terdapat di Sukabumi dan Cianjur, ayam sentul terpusat di Ciamis, itik rambon di Cirebon, sedangkan sentra domba Garut terdapat di wilayah Garut dan Bandung.

Khusus komoditas domba Garut, pihaknya mengandalkan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Domba (BPPTD) Margawati Garut. Tempat ini menjadi pusat penelitian dan pengembangan domba yang tidak dimiliki wilayah lain.

Menurutnya, para peternak Jabar lebih memilih menggunakan pakan jenis lokal. Pasalnya, pakan ini memiliki kualitas baik dan berserat tinggi.

“Peternak lokal di Jabar seperti peternak domba dan ayam pelung sudah bisa adaptasi sehingga banyak yang menggunakan sumber pakan lokal, dan menghasilkan produksi peternakan yang baik,” katanya.

Untuk diketahui, Jabar menjadi sentra produksi unggas melalui catatan jumlah populasi tahun 2011, ayam buras sebanyak 27.396.416 ekor, ayam pedaging 97.210.574 ekor, itik 9.310.715 ekor dan ayam petelur 11.930.515 ekor.

Sementara populasi pada ternak lainnya yakni domba sebanyak 7.041.437 ekor, kambing 2.016.867 ekor, sapi potong 422.989 ekor, sapi perah 139.970 ekor dan kerbau 130.157 ekor

Sumber: www.disnak.jabarprov.go.id, Senin, 12 Nopember 2012

Gratis Kartu Debit (ATM) Mastercard dari Amerika

Translate

REKOMENDASI BUKU

Followers

Total Tayangan Halaman

 

Copyright © 2009 by Info Agrobisnis Anda